Archive for December, 2011

Memasuki Tahun Baru; Di Mana Kebahagiaan

 

Tanggal 31, tanpa disadari kita memasuki moment akhir tahun, hingga tanggal satu, dengan paduan angka tahun yang baru itu tiba.

Pada tahun yang baru, kita seringkali melihat kembali perjalanan hidup kita, me-review-nya bagai seorang komentator yang begitu tertarik, dan merumuskan resolusi daripadanya.

Resolusi yang anda buat itu, mari kita umpamakan adalah baik adanya.  Lalu anda berusaha mewujudkannya, terus-menerus tanpa lelah (atau dengan sedikit alpa Xp) sampai akhirnya penghujung tahun yang baru tiba.

Dan di antara–sepanjang perjalanan itu–anda bertanya…

Di mana kebahagiaan?

Di mana kedamaian?

Apakah mungkin dua pertanyaan itulah yang muncul di dalam benak anda? Ketika kita masing-masing menerobos pertanyaan-pertanyaan bercabang yang datang daripada dua pertanyaan pokok tersebut.

Mungkinkah pertanyaan itu melanda hati kita?

Bagi saya, iya.

Segala pertanyaan tentang: Bagaimana hari esok, sanggupkah saya?; benarkah langkah yang telah saya ambil?; akankah saya salah bila mengambil jalan ini di samping yang satunya lagi?; mampukah saya menghidupkan mimpi saya dan keluarga saya?; mampukah saya menjaga perasaan banyak orang?; cara apa yang terbaik?; mengapa Tuhan membuat hidup begitu sulit?

Pada hari itu, sampai dengan hari ini, saya melihat dua pertanyaan itu berada di balik cabang-cabang pertanyaan ini; bagaikan sebuah akar daripada sebuah pohon yang tak terhitung luas dan tingginya. Mungkinkah pertanyaan-pertanyaan seperti ini ada juga di benak anda?

Lalu, saya mencari dan mencari.

Sampailah saya pada suatu pengertian sementara…

‘Mungkinkah kebahagiaan ada pada setiap detik yang terlalui?’

Kita seringkali dengan susah payah mencari kebahagiaan itu pada masa yang lalu.., pada masa depan. Mencari kebahagiaan ketika semuanya terjalani sesuai dengan standar yang kita idam-idamkan.

Bagaimana kalau baik dan buruk menurut dunia adalah sama-sama merupakan anugerah? Ketika anda terjatuh, adalah sama indahnya dan bernilainya, dengan  ketika anda menggenggam bendera kemenangan? Saat anda merasa tidak ada harapan, itu pula saat yang sama bobotnya dengan saat ketika anda bersemangat dan merasa bahwa hidup selalu baik-baik saja?

Banyak yang mengatakan: suka maupun duka itu ada tujuannya.

Tapi kita manusia, otak dan hati kita, respon kita sekalipun seakan sudah terprogram untuk memberi reaksi yang berbeda di antara keduanya.

Bagaimana kalau kita melihat segala sesuatu dari sudut yang netral? tanpa mencengkram erat titik/kutub-kutub tertentu.

Maka mungkin hidup seseorang akan menjadi lebih damai, tanpa pertentangan.

Ketika melihat sesuatu yang tergeser ke kanan, dia tak akan berteriak apalagi menjerit; “Gila! jangan geser ke kanan! yang kiri lebih baik…”

Sementara yang suka kanan ataupun kiri, sangat kuat, mungkin akan begitu bersedih dan merasakan tekanan jiwa yang hebat, mari kita aliaskan sebagai kehebohan, ketika ia tergeserkan, atau melihat pandangan yang bergeser daripada kutubnya.

Bayangkan seseorang yang tidak condong ke kanan ataupun ke kiri. Ia berada pada titik netral, lambangkan saja di antara kedua titik tersebut. Tidak terpengaruh oleh lintasan-lintasan dualitas yang ada. Menjadi penonton yang begitu setia, namun dapat memisahkan diri dari apa yang ia saksikan selama ini.

Apakah kita akan sebegitu terpukulnya ketika kita menonton sebuah film bioskop yang berisi adegan kekerasan, percintaan, ataupun yang lainnya?

Jawabannya, mereka adalah kesementaraan yang akan berlalu, maka kalau bisa jangan anda kaitkan diri anda dengan yang berlalu itu. Anda hanyalah penonton, ingat!

Dengan menghargai setiap detik yang berlalu, kita telah menjadi penonton tersebut.

Mungkin kita masih memiliki pandangan yang ingin kita dekap. Tapi kita bisa meminimalisirkan ketegangan kita, sebagai yang menonton itu, dengan menyadarkan diri kita terus-menerus:

Tokoh ilusi ini banyak. Cerita dan setting-nya selalu berubah.

Aku hanya bisa melakukan sebisaku, dan tidak berpegang pada pandangan yang salah, bahwa semuanya akan selalu sama seperti yang kuinginkan.

Hanya akan menambah penderitaan.

Anda boleh mempunyai pandangan yang ingin anda dekap hingga anda mati. Anda boleh berusaha mewujudkannya. Tapi dengan melepas keterikatan anda dengan hasil, keadaan, kesukaan dan sebagainya secara tertentu, anda dapat menonton film ini dengan lebih atentif pada setiap detik, dan dengan perasaan yang lebih ringan.

Kebahagiaan mungkin bersembunyi di setiap detik.

Surat untuk Teman

Memutuskan hubungan lewat BB, mungkin pernah anda dengar.

Hal seperti itulah yang mampu saya bandingkan dengan perilaku saya pada waktu itu.

Walau sudah hampir setahun berlalu, tetap saja terngiang.

Memutuskan berhenti foruming, namun lidah saya tak sanggup untuk mengucapkan kata berpisah.

Apalagi saya juga meninggalkan sejumlah challenge (termasuk tanggung jawab di dalamnya) yang saya putus begitu saja dengan penjelasan telah memutuskan berhenti dari kegiatan fanfiction.

Ketahuilah meskipun saya berhenti dari kegiatan menulis fanfic, pada dasarnya saya tidak akan setega itu untuk tidak membaca dan me-review karya peserta challenge saya, yang telah berusaha dengan dasar harapan mereka dan dasar janji saya.

Walau terkesan tega abis dan egois sekali, ada alasan yang lebih yang membuat saya memutuskan seperti itu.

Saya tak menyampaikannya, mengingatkan saya akan putus melalui bb.

Lalu, untuk apa saya mem-posting-kan ini?

Untuk cari sensasi kah? Membuka luka lama, yang mungkin ada di hati anda, atau, untuk membela diri?

Yang bisa saya katakan ialah… saya ingin menjaga keutuhan hati anda, dan mungkin menyembuhkan celah yang telah saya buat, walaupun mungkin agak terlambat.

Tempo dulu, saya memutuskan untuk menghentikan semuanya karena saya tengah dicengkram oleh perasaan dan logika yang kuat…, untuk memulai hidup renunciation/pelepasan. . Gunung, pondok yang sepi, kegiatan bhiksuni, biarawan,  dan semacamnya. Perjalanan hidup serta pengumpulan informasi lewat detik-detik yang terlalui menghantarkan saya pada konklusi itu. Walau pada akhirnya saya tidak jadi memilih jalan tersebut pada tahun ini, saya memutuskan melanjutkan keputusan yang telah saya buat dengan lebih menjatuhkan konsentrasi pada peningkatan kualitas hidup. Kata sudah terucap, dan saya memilih.

Saya mulai memutuskan untuk berkuliah lagi dimulai pertengahan tahun depan, berfokus pada penimbaan ilmu, untuk masa depan. Terus berupaya memecahkan teka-teki hidup, menguasai kelemahan saya. Mengatasi problem OCD yang menguras tenaga.

Saya ucapkan maaf bagi yang menjadi korban ketidakjelasan pada waktu itu. Mohon maafkan kepengecutan saya di sejumlah titik. Sisanya adalah keinginan untuk membuat masalah saya tetap personal.

You know… I liked to keep it myself.

Dan meskipun saya tidak aktif lagi sekarang, masih berjuang di jalur yang telah saya pilih, semoga persaudaraan di forum tetap hidup.

Sekali lagi maaf. Dan harap jangan lempari  saya dengan tomat bila saya sesekali bermain ke sana ; )

Walau itu adalah hak anda Xp

Hug.

Jangan Menyiksa Diri

Manusia kadang suka menyulitkan diri sendiri, kalau saya pikir-pikir.

Hidup itu sendiri saja sudah berputar dari dahulu kala, senang dan sedih berganti.

Tapi yang namanya manusia, teteup aja kekeuh pengen terus bahagia, dan gawatnya lagi, mengandalkan kebahagiaan dari luar diri.

Manusia acap kali terseret emosi, sikap mau menang sendiri, dan seterusnya.

Melihat dunia yang sudah seperti ini, berputar dan silih berganti, masihkah kita mau menyiksa diri kita lagi?

Kalau dunia memang diciptakan demikian, mungkin melakukan yang terbaik, ikhlas dan bersyukur adalah jalan yang bisa dikatakan, lumayan baik untuk bisa bahagia dan tetap waras.

Anda punya pacar, lalu tiba-tiba pacar anda selingkuh. Memang anda punya hak buat marah-marah dan mengalami rasa sedih. Tapi yah jangan dibawa berlarut-larut.  Atau, anda dulu seorang pemenang di banyak bidang, tiba-tiba anda dicemooh orang, apalagi tidak dipercayai orang lain lagi, kehilangan nama baik? Jatuh? Kehilangan teman?

Menilik demikian, ‘silakan’, mungkin nampak menjadi kata yang tampak menyembuhkan di dunia ini. Dan perjuangan tanpa keterikatan  akan hasil ialah bagai udara.

Sesak-sesak, sedih-sedih, kalau sudah begini, anda mau berteriak minta tolong sama siapa?

Mungkin anda punya teman, yah, itulah salah satu gunanya teman, ada pada saat anda membutuhkan, menenangkan anda dan mau coba mengerti. Tapi, life keeps going on. Hidup terus berputar mungkin hingga 360 derajat. Suatu penemuan lama tergantikan dengan penemuan baru. Yang semula utuh bisa somplak.

Karena itu, jangan lagi mencoba menyiksa diri, apapun alasan anda.

Cintailah diri kita dengan bijaksana. Bahkan, kalau cinta untuk diri anda sendiri  itu  sudah tidak sehat, terlalu membutakan anda, gantikanlah dengan cara mencintai yang meskipun kelihatan aneh, tetapi merupakan bentuk cinta yang lebih bijaksana dan lembut.

Sempurna memang mungkin bukan milik manusia. Semua makhluk mungkin ada kelemahan masing-masing. Tapi uniknya kado dari Tuhan, ialah kita memiliki kehendak bebas. Tinggal bagaimana kita menggunakan kado itu untuk menjadi makhluk yang sebahagia dan seekspresif mungkin. Dunia juga ditempati makhluk lainnya, apalagi kalau kita sadar, untuk berbagi dengan mereka, di tengah dunia yang penuh dualitas, susah-senang.

Karena itu buanglah penghakiman, cobalah lebih positif, jangan cepet down, dan bersemangatlah.

Ingat di samping semua yang nampak aneh dan mengandung kesulitan, juga ada kebahagiaan yang patut disyukuri.

Tokoh-tokoh lain di dunia ini yang bisa diajak berbagi, lihatlah hewan peliharaan anda, lingkungan sekitar anda, ibu anda, adik kelas anda.

Dengan kata lain, janganlah selalu menyalahkan sistem, dan hidup, bangkitlah.

Kita mungkin mampu menghidupkan surga.

Dan ketika kita ingin memeluk suatu yang abadi,

…tataplah Tuhan.

Dia selalu ada beserta kita.