Memasuki Tahun Baru; Di Mana Kebahagiaan

 

Tanggal 31, tanpa disadari kita memasuki moment akhir tahun, hingga tanggal satu, dengan paduan angka tahun yang baru itu tiba.

Pada tahun yang baru, kita seringkali melihat kembali perjalanan hidup kita, me-review-nya bagai seorang komentator yang begitu tertarik, dan merumuskan resolusi daripadanya.

Resolusi yang anda buat itu, mari kita umpamakan adalah baik adanya.  Lalu anda berusaha mewujudkannya, terus-menerus tanpa lelah (atau dengan sedikit alpa Xp) sampai akhirnya penghujung tahun yang baru tiba.

Dan di antara–sepanjang perjalanan itu–anda bertanya…

Di mana kebahagiaan?

Di mana kedamaian?

Apakah mungkin dua pertanyaan itulah yang muncul di dalam benak anda? Ketika kita masing-masing menerobos pertanyaan-pertanyaan bercabang yang datang daripada dua pertanyaan pokok tersebut.

Mungkinkah pertanyaan itu melanda hati kita?

Bagi saya, iya.

Segala pertanyaan tentang: Bagaimana hari esok, sanggupkah saya?; benarkah langkah yang telah saya ambil?; akankah saya salah bila mengambil jalan ini di samping yang satunya lagi?; mampukah saya menghidupkan mimpi saya dan keluarga saya?; mampukah saya menjaga perasaan banyak orang?; cara apa yang terbaik?; mengapa Tuhan membuat hidup begitu sulit?

Pada hari itu, sampai dengan hari ini, saya melihat dua pertanyaan itu berada di balik cabang-cabang pertanyaan ini; bagaikan sebuah akar daripada sebuah pohon yang tak terhitung luas dan tingginya. Mungkinkah pertanyaan-pertanyaan seperti ini ada juga di benak anda?

Lalu, saya mencari dan mencari.

Sampailah saya pada suatu pengertian sementara…

‘Mungkinkah kebahagiaan ada pada setiap detik yang terlalui?’

Kita seringkali dengan susah payah mencari kebahagiaan itu pada masa yang lalu.., pada masa depan. Mencari kebahagiaan ketika semuanya terjalani sesuai dengan standar yang kita idam-idamkan.

Bagaimana kalau baik dan buruk menurut dunia adalah sama-sama merupakan anugerah? Ketika anda terjatuh, adalah sama indahnya dan bernilainya, dengan  ketika anda menggenggam bendera kemenangan? Saat anda merasa tidak ada harapan, itu pula saat yang sama bobotnya dengan saat ketika anda bersemangat dan merasa bahwa hidup selalu baik-baik saja?

Banyak yang mengatakan: suka maupun duka itu ada tujuannya.

Tapi kita manusia, otak dan hati kita, respon kita sekalipun seakan sudah terprogram untuk memberi reaksi yang berbeda di antara keduanya.

Bagaimana kalau kita melihat segala sesuatu dari sudut yang netral? tanpa mencengkram erat titik/kutub-kutub tertentu.

Maka mungkin hidup seseorang akan menjadi lebih damai, tanpa pertentangan.

Ketika melihat sesuatu yang tergeser ke kanan, dia tak akan berteriak apalagi menjerit; “Gila! jangan geser ke kanan! yang kiri lebih baik…”

Sementara yang suka kanan ataupun kiri, sangat kuat, mungkin akan begitu bersedih dan merasakan tekanan jiwa yang hebat, mari kita aliaskan sebagai kehebohan, ketika ia tergeserkan, atau melihat pandangan yang bergeser daripada kutubnya.

Bayangkan seseorang yang tidak condong ke kanan ataupun ke kiri. Ia berada pada titik netral, lambangkan saja di antara kedua titik tersebut. Tidak terpengaruh oleh lintasan-lintasan dualitas yang ada. Menjadi penonton yang begitu setia, namun dapat memisahkan diri dari apa yang ia saksikan selama ini.

Apakah kita akan sebegitu terpukulnya ketika kita menonton sebuah film bioskop yang berisi adegan kekerasan, percintaan, ataupun yang lainnya?

Jawabannya, mereka adalah kesementaraan yang akan berlalu, maka kalau bisa jangan anda kaitkan diri anda dengan yang berlalu itu. Anda hanyalah penonton, ingat!

Dengan menghargai setiap detik yang berlalu, kita telah menjadi penonton tersebut.

Mungkin kita masih memiliki pandangan yang ingin kita dekap. Tapi kita bisa meminimalisirkan ketegangan kita, sebagai yang menonton itu, dengan menyadarkan diri kita terus-menerus:

Tokoh ilusi ini banyak. Cerita dan setting-nya selalu berubah.

Aku hanya bisa melakukan sebisaku, dan tidak berpegang pada pandangan yang salah, bahwa semuanya akan selalu sama seperti yang kuinginkan.

Hanya akan menambah penderitaan.

Anda boleh mempunyai pandangan yang ingin anda dekap hingga anda mati. Anda boleh berusaha mewujudkannya. Tapi dengan melepas keterikatan anda dengan hasil, keadaan, kesukaan dan sebagainya secara tertentu, anda dapat menonton film ini dengan lebih atentif pada setiap detik, dan dengan perasaan yang lebih ringan.

Kebahagiaan mungkin bersembunyi di setiap detik.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: