Rasa Malu

Pagi hari ini saya akan membahas tentang rasa malu.

Ada yang ga kenal sama rasa malu? hehehe. Kalau begitu, apakah anda muka tembok? Pake cat apa yah? Ah, anda blushing.

Kita simpan dulu frasa berharga ini, muka tembok, di dalam kaus kaki santa.

Rasa malu, suatu rasa yang begitu familiar sekaligus mendatangkan enigma bagi kita. Sebuah rasa yang bervariasi,  kadar dan warna-warninya, namun tetap menjelaskan satu kata, ah, malu.

Munculnya kapan, yah, singkat kata, seperti, mungkin, saat kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, atau mungkin, ada juga yang bertentangan dengan etika umum, dan kebetulan, kita peduli. Atau pada saat kita tidak melakukan apa yang kita pikir sebagai sepantasnya kita lakukan dan rasakan? Atau saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain?

Well, kita simpan dulu, eng, singkirkan berbagai penjelasan ini ke tempat manis di sisi kita, sebuah tempat penyimpanan plastik berwarna pelangi.

Kita kembali pada ‘muka tembok.’

Apa keuntungan menjadi muka tembok?

Saat anda jatuh, anda punya keberanian lagi, setidaknya untuk melangkah lagi.

Saat anda dihantam cacian orang, anda punya keyakinan bahwa semuanya akan menjadi baik ketika anda kembali berusaha. Menengok manis pada orang dfi sekeliling anda  (bukan dengan arogansi, loh, ya) Tapi dengan pohon jiwa, Who are you? Gua gak akan terpengaruh, atau mungkin dengan pemikiran, Oh, ya. Yang kamu katakan mungkin benar.  Kamu memang teman, tapi dengan cara yang agak pedas. It’s ok. Tapi sekarang saya bukan begitu lagi, loh, ya. Walaupun sekarang saya masih dalam area hitam, tapi saya mau bangkit loh. Jadi, rasa malu, gua ga butuh lagi. Cacian lo, gua anggap suplemen, hidup gue? Ok. Berjalan terus. Aku siap, aku siap (insert spongebob) Gua ga butuh cengeng lagi. Dengan kecengengan berlebih gua ga bisa idup.

Lalu, kelemahan muka tembok apa?

Muka yang terlalu tembok,  mungkin dapat memanjakan anda, untuk terus melakukan yang tidak sepantasnya. Tidak mau membuka mata, malah mengisi mata anda dengan semen cair, yang lama-lama bukan hanya membayangi mata lagi, tapi membutakan.

Singkat kata, apa yang ingin saya sampaikan mengenai rasa malu dan muka tembok ini?

Gunakanlah jurus muka tembok di saat yang diperlukan, tapi jangan gunakan jurus muka tembok dengan tidak bijaksana. Bisa-bisa anda menjerumuskan diri anda sendiri, ataupun orang lain.

Ya, Semangat, kawan.

Muah.

Note:

Lalu, rasa malu itu teman, atau musuh, sebenarnya.

Karena saya tak mau omong besar Xp yah singkat kata, menurut pandangan saya, rasa malu ini adalah kawan sekaligus lawan.

Anda bisa menerkanya.

Teman ketika anda mengambil informasi daripadanya, dan merumuskan, melaksanakan langkah yang menuju hal yang baik  daripadanya. Menilik, sinyal apa yang sebenarnya disampaikannya? Mengenai kurang berusahakah saya, mengenai kesalahan saya di masa lampaukah? Mengenai ketamakankah? Mengenai kekurangbersyukurankah? Mengenai menutupi jiwa pemberanikah? Mengenai menutupi kualitas-kualitas andakah?

Lawan, ketika anda menggunakan rasa malu secara berlebihan dan tidak sehat, sehingga anda susah maju, dan malah mengubah rasa malu jadi negativitas.

Sekiannnn.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: