Archive for the ‘ Jendela Kehidupan ’ Category

Ketika Sedang Malas, Apa Yang Harus Dilakukan?

Anda lagi liburan, tiba-tiba bukannya produktif, anda malah jadi guling-guling di atas ranjang. Saya ga mau menghakimi guling-guling di atas ranjang sebagai ga produktif. Bahkan tidur-tiduran pun kadang bisa saja produktif, ketika anda tengah lelah dan memang butuh istirahat.

Nah, bagi yang sedang ingin memilih yang tipe bergerak, ini tips dari saya.

 

-Mulaiu dari melakukan hobi anda dulu

Lah, mengapa dari hobi dulu?

Biasanya, ketika anda melakukan sesuatu karena suka, otomatis anda akan bersemangat, dan ketika rasa malas menyerbu, ia tergantikan dengan rasa ga lemas dan bahagia.

Tentu saja kegiatannya diusahakan yang positif, ya.

 

-Lakukan dengan sesuatu yang, hm, enak?

Hehe. Anda lagi pengen belajar, tapi ga mood, nih. Anda bisa menyiasatinya dengan sambil memakan cemilan (sesuai standar kesehatan) atau sambil mendengarkan musik? Bila anda sulit melakukan tugas anda sembari melakukan keduanya, setelah cukup terhibur, anda bisa kembali bekerja dengan fokus. (Yang baca nunjuk-nunjuk. Saya bisa sama cemilan).

 

-Jalan-jalan sebentar, atau, nyalakan tv sebentar?

Anda bisa melakukan salah satu di antaranya. Kalau sedang berjalan, boleh di dalam rumah. Perhatikan rasa dari gerakan kaki anda. Setelah rileks, anda dapat beraktivitas kembali.

 

-Ingat kembali tujuan anda

Ketika mengingat tujuan anda, anda akan terpacu untuk melangkah.

:  )

Advertisements

Rasa Malu

Pagi hari ini saya akan membahas tentang rasa malu.

Ada yang ga kenal sama rasa malu? hehehe. Kalau begitu, apakah anda muka tembok? Pake cat apa yah? Ah, anda blushing.

Kita simpan dulu frasa berharga ini, muka tembok, di dalam kaus kaki santa.

Rasa malu, suatu rasa yang begitu familiar sekaligus mendatangkan enigma bagi kita. Sebuah rasa yang bervariasi,  kadar dan warna-warninya, namun tetap menjelaskan satu kata, ah, malu.

Munculnya kapan, yah, singkat kata, seperti, mungkin, saat kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, atau mungkin, ada juga yang bertentangan dengan etika umum, dan kebetulan, kita peduli. Atau pada saat kita tidak melakukan apa yang kita pikir sebagai sepantasnya kita lakukan dan rasakan? Atau saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain?

Well, kita simpan dulu, eng, singkirkan berbagai penjelasan ini ke tempat manis di sisi kita, sebuah tempat penyimpanan plastik berwarna pelangi.

Kita kembali pada ‘muka tembok.’

Apa keuntungan menjadi muka tembok?

Saat anda jatuh, anda punya keberanian lagi, setidaknya untuk melangkah lagi.

Saat anda dihantam cacian orang, anda punya keyakinan bahwa semuanya akan menjadi baik ketika anda kembali berusaha. Menengok manis pada orang dfi sekeliling anda  (bukan dengan arogansi, loh, ya) Tapi dengan pohon jiwa, Who are you? Gua gak akan terpengaruh, atau mungkin dengan pemikiran, Oh, ya. Yang kamu katakan mungkin benar.  Kamu memang teman, tapi dengan cara yang agak pedas. It’s ok. Tapi sekarang saya bukan begitu lagi, loh, ya. Walaupun sekarang saya masih dalam area hitam, tapi saya mau bangkit loh. Jadi, rasa malu, gua ga butuh lagi. Cacian lo, gua anggap suplemen, hidup gue? Ok. Berjalan terus. Aku siap, aku siap (insert spongebob) Gua ga butuh cengeng lagi. Dengan kecengengan berlebih gua ga bisa idup.

Lalu, kelemahan muka tembok apa?

Muka yang terlalu tembok,  mungkin dapat memanjakan anda, untuk terus melakukan yang tidak sepantasnya. Tidak mau membuka mata, malah mengisi mata anda dengan semen cair, yang lama-lama bukan hanya membayangi mata lagi, tapi membutakan.

Singkat kata, apa yang ingin saya sampaikan mengenai rasa malu dan muka tembok ini?

Gunakanlah jurus muka tembok di saat yang diperlukan, tapi jangan gunakan jurus muka tembok dengan tidak bijaksana. Bisa-bisa anda menjerumuskan diri anda sendiri, ataupun orang lain.

Ya, Semangat, kawan.

Muah.

Note:

Lalu, rasa malu itu teman, atau musuh, sebenarnya.

Karena saya tak mau omong besar Xp yah singkat kata, menurut pandangan saya, rasa malu ini adalah kawan sekaligus lawan.

Anda bisa menerkanya.

Teman ketika anda mengambil informasi daripadanya, dan merumuskan, melaksanakan langkah yang menuju hal yang baik  daripadanya. Menilik, sinyal apa yang sebenarnya disampaikannya? Mengenai kurang berusahakah saya, mengenai kesalahan saya di masa lampaukah? Mengenai ketamakankah? Mengenai kekurangbersyukurankah? Mengenai menutupi jiwa pemberanikah? Mengenai menutupi kualitas-kualitas andakah?

Lawan, ketika anda menggunakan rasa malu secara berlebihan dan tidak sehat, sehingga anda susah maju, dan malah mengubah rasa malu jadi negativitas.

Sekiannnn.

Memasuki Tahun Baru; Di Mana Kebahagiaan

 

Tanggal 31, tanpa disadari kita memasuki moment akhir tahun, hingga tanggal satu, dengan paduan angka tahun yang baru itu tiba.

Pada tahun yang baru, kita seringkali melihat kembali perjalanan hidup kita, me-review-nya bagai seorang komentator yang begitu tertarik, dan merumuskan resolusi daripadanya.

Resolusi yang anda buat itu, mari kita umpamakan adalah baik adanya.  Lalu anda berusaha mewujudkannya, terus-menerus tanpa lelah (atau dengan sedikit alpa Xp) sampai akhirnya penghujung tahun yang baru tiba.

Dan di antara–sepanjang perjalanan itu–anda bertanya…

Di mana kebahagiaan?

Di mana kedamaian?

Apakah mungkin dua pertanyaan itulah yang muncul di dalam benak anda? Ketika kita masing-masing menerobos pertanyaan-pertanyaan bercabang yang datang daripada dua pertanyaan pokok tersebut.

Mungkinkah pertanyaan itu melanda hati kita?

Bagi saya, iya.

Segala pertanyaan tentang: Bagaimana hari esok, sanggupkah saya?; benarkah langkah yang telah saya ambil?; akankah saya salah bila mengambil jalan ini di samping yang satunya lagi?; mampukah saya menghidupkan mimpi saya dan keluarga saya?; mampukah saya menjaga perasaan banyak orang?; cara apa yang terbaik?; mengapa Tuhan membuat hidup begitu sulit?

Pada hari itu, sampai dengan hari ini, saya melihat dua pertanyaan itu berada di balik cabang-cabang pertanyaan ini; bagaikan sebuah akar daripada sebuah pohon yang tak terhitung luas dan tingginya. Mungkinkah pertanyaan-pertanyaan seperti ini ada juga di benak anda?

Lalu, saya mencari dan mencari.

Sampailah saya pada suatu pengertian sementara…

‘Mungkinkah kebahagiaan ada pada setiap detik yang terlalui?’

Kita seringkali dengan susah payah mencari kebahagiaan itu pada masa yang lalu.., pada masa depan. Mencari kebahagiaan ketika semuanya terjalani sesuai dengan standar yang kita idam-idamkan.

Bagaimana kalau baik dan buruk menurut dunia adalah sama-sama merupakan anugerah? Ketika anda terjatuh, adalah sama indahnya dan bernilainya, dengan  ketika anda menggenggam bendera kemenangan? Saat anda merasa tidak ada harapan, itu pula saat yang sama bobotnya dengan saat ketika anda bersemangat dan merasa bahwa hidup selalu baik-baik saja?

Banyak yang mengatakan: suka maupun duka itu ada tujuannya.

Tapi kita manusia, otak dan hati kita, respon kita sekalipun seakan sudah terprogram untuk memberi reaksi yang berbeda di antara keduanya.

Bagaimana kalau kita melihat segala sesuatu dari sudut yang netral? tanpa mencengkram erat titik/kutub-kutub tertentu.

Maka mungkin hidup seseorang akan menjadi lebih damai, tanpa pertentangan.

Ketika melihat sesuatu yang tergeser ke kanan, dia tak akan berteriak apalagi menjerit; “Gila! jangan geser ke kanan! yang kiri lebih baik…”

Sementara yang suka kanan ataupun kiri, sangat kuat, mungkin akan begitu bersedih dan merasakan tekanan jiwa yang hebat, mari kita aliaskan sebagai kehebohan, ketika ia tergeserkan, atau melihat pandangan yang bergeser daripada kutubnya.

Bayangkan seseorang yang tidak condong ke kanan ataupun ke kiri. Ia berada pada titik netral, lambangkan saja di antara kedua titik tersebut. Tidak terpengaruh oleh lintasan-lintasan dualitas yang ada. Menjadi penonton yang begitu setia, namun dapat memisahkan diri dari apa yang ia saksikan selama ini.

Apakah kita akan sebegitu terpukulnya ketika kita menonton sebuah film bioskop yang berisi adegan kekerasan, percintaan, ataupun yang lainnya?

Jawabannya, mereka adalah kesementaraan yang akan berlalu, maka kalau bisa jangan anda kaitkan diri anda dengan yang berlalu itu. Anda hanyalah penonton, ingat!

Dengan menghargai setiap detik yang berlalu, kita telah menjadi penonton tersebut.

Mungkin kita masih memiliki pandangan yang ingin kita dekap. Tapi kita bisa meminimalisirkan ketegangan kita, sebagai yang menonton itu, dengan menyadarkan diri kita terus-menerus:

Tokoh ilusi ini banyak. Cerita dan setting-nya selalu berubah.

Aku hanya bisa melakukan sebisaku, dan tidak berpegang pada pandangan yang salah, bahwa semuanya akan selalu sama seperti yang kuinginkan.

Hanya akan menambah penderitaan.

Anda boleh mempunyai pandangan yang ingin anda dekap hingga anda mati. Anda boleh berusaha mewujudkannya. Tapi dengan melepas keterikatan anda dengan hasil, keadaan, kesukaan dan sebagainya secara tertentu, anda dapat menonton film ini dengan lebih atentif pada setiap detik, dan dengan perasaan yang lebih ringan.

Kebahagiaan mungkin bersembunyi di setiap detik.

Jangan Menyiksa Diri

Manusia kadang suka menyulitkan diri sendiri, kalau saya pikir-pikir.

Hidup itu sendiri saja sudah berputar dari dahulu kala, senang dan sedih berganti.

Tapi yang namanya manusia, teteup aja kekeuh pengen terus bahagia, dan gawatnya lagi, mengandalkan kebahagiaan dari luar diri.

Manusia acap kali terseret emosi, sikap mau menang sendiri, dan seterusnya.

Melihat dunia yang sudah seperti ini, berputar dan silih berganti, masihkah kita mau menyiksa diri kita lagi?

Kalau dunia memang diciptakan demikian, mungkin melakukan yang terbaik, ikhlas dan bersyukur adalah jalan yang bisa dikatakan, lumayan baik untuk bisa bahagia dan tetap waras.

Anda punya pacar, lalu tiba-tiba pacar anda selingkuh. Memang anda punya hak buat marah-marah dan mengalami rasa sedih. Tapi yah jangan dibawa berlarut-larut.  Atau, anda dulu seorang pemenang di banyak bidang, tiba-tiba anda dicemooh orang, apalagi tidak dipercayai orang lain lagi, kehilangan nama baik? Jatuh? Kehilangan teman?

Menilik demikian, ‘silakan’, mungkin nampak menjadi kata yang tampak menyembuhkan di dunia ini. Dan perjuangan tanpa keterikatan  akan hasil ialah bagai udara.

Sesak-sesak, sedih-sedih, kalau sudah begini, anda mau berteriak minta tolong sama siapa?

Mungkin anda punya teman, yah, itulah salah satu gunanya teman, ada pada saat anda membutuhkan, menenangkan anda dan mau coba mengerti. Tapi, life keeps going on. Hidup terus berputar mungkin hingga 360 derajat. Suatu penemuan lama tergantikan dengan penemuan baru. Yang semula utuh bisa somplak.

Karena itu, jangan lagi mencoba menyiksa diri, apapun alasan anda.

Cintailah diri kita dengan bijaksana. Bahkan, kalau cinta untuk diri anda sendiri  itu  sudah tidak sehat, terlalu membutakan anda, gantikanlah dengan cara mencintai yang meskipun kelihatan aneh, tetapi merupakan bentuk cinta yang lebih bijaksana dan lembut.

Sempurna memang mungkin bukan milik manusia. Semua makhluk mungkin ada kelemahan masing-masing. Tapi uniknya kado dari Tuhan, ialah kita memiliki kehendak bebas. Tinggal bagaimana kita menggunakan kado itu untuk menjadi makhluk yang sebahagia dan seekspresif mungkin. Dunia juga ditempati makhluk lainnya, apalagi kalau kita sadar, untuk berbagi dengan mereka, di tengah dunia yang penuh dualitas, susah-senang.

Karena itu buanglah penghakiman, cobalah lebih positif, jangan cepet down, dan bersemangatlah.

Ingat di samping semua yang nampak aneh dan mengandung kesulitan, juga ada kebahagiaan yang patut disyukuri.

Tokoh-tokoh lain di dunia ini yang bisa diajak berbagi, lihatlah hewan peliharaan anda, lingkungan sekitar anda, ibu anda, adik kelas anda.

Dengan kata lain, janganlah selalu menyalahkan sistem, dan hidup, bangkitlah.

Kita mungkin mampu menghidupkan surga.

Dan ketika kita ingin memeluk suatu yang abadi,

…tataplah Tuhan.

Dia selalu ada beserta kita.

Sudahkah Kita Hemat Energi?

 

Hai2.

 

Seperti judulnya, kali ini saya ingin mengajak anda sekalian …

 

Jreng jreng jreng.

 

Untuk berhemat energi.

 

Pernahkah kawan-kawan memerhatikan ac yang sedang menyala, tv yang sibuk berdendang dengan gambaran-gambarannya yang juga tengah sibuk? Atau, diisi dengan presenter cantik/tampan, hehe.  Atau, komputer yang sibuk dengan tarian screen-savernya.

 

Jawabannya, pasti pernah (maksa nya, aha aha)

 

Ya. Para benda elektronik yang manis-manis itu siap-sedia untuk membantu anda dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti hiburan, pendidikan, sosial, dst.

 

Dan yang melatarbelakangi hidupnya mereka tentu saja, listrik. Energi.

 

Lalu, saya pun dengan usilnya bertanya lagi.

 

Siapa yang tahu bahwa sumber daya alam itu ada batasnya, dan siapa yang pernah ngecek tagihan listriknya, airnya?

 

Ngabain yang pernah ngitung, dan malah ngelirik yang belum.

 

Nah, bagi yang belum, ga ada salahnya melirik argumen saya tentang mengapa hemat energi itu, perlu.

 

Satu.

Lebih irrrit.

Uang yang biasa anda gunakan untuk bayar listrik, air, selisihnya karena anda berhemat bisa anda pakai untuk kebutuhan, atau keinginan lainnya, atau, bahkan bisa anda sumbangkan bagi saudara-saudari kita yang hidupnya masih berkekurangan. Perhatikan nasib anak-anak jalanan yang ga punya sendal jepit, ga bisa sekolah, anak panti yang butuh sarapan bulan depan, yayasan sosial yang butuh kedermawanan anda untuk bangun rumah sakit?

Atau … Anda yang lagi butuh sweater merah yang bagus, hehe. Atau, hmm. Tabungan masa depan, untuk hal tak terduga.

 

-mengirit sumber daya alam untuk generasi mendatang, meminimalisir eksploitasi alam.

Yang ini, tak perlu dijelaskan lebih.

 

Yak. Demikianlah.

 

Jadi, bagi yang merasa belum hemat energi, ga perlu berkecil hati. Lama-lama dibudayakan pasti bisa. Misal saya keasyikan tenggelam bermain game berjam-jam lamanya. Besoknya saya kompensasikan dengan irit hiburan.

 

Atau, bagi anda yang selama ini, maaf, saya cuma ingin jujur, rada malas nutup ac, lampu, kipas angin, dst karena alasan apapun, salah satunya kepraktisan, dan merasa, wah, kocek gua masih banyak, atau … Yah, yang kerja juga suami gue. Di rumah kan gua cape ngurus anak. Ga papa dong. Silakan, eliminasi pikiran tersebut bila anda ingin bersumbangsih dalam hal hemat energi ini.

 

More power to yoooou.

 

Dan ketika suami anda pulang, dan menemukan lampu kamar mandi tertutup rapi, ac di kamar tidak dinyalakan ketika tak ada penghuni, vcd player dan speaker dimatikan sehabis nonton. Maka ia akan pulang dengan hati yang ringan dan bangga, bahwa istri ataupun anaknya mungkin telah lebih bijaksana dan perhatian atas keringat kerja kerasnya.

 

Ya asal lampu halaman depan rumah jangan dimatiin lo ya dan kebetulan di sana ada genangan lumpur. Eh, yang pulang malah kepeleset, bruk.

 

Dan ternyata yang ngetuk pintu rumah, suami anda yang habis kepeleset dan ngeringis.

 

Haha ^_^ only a joke.

 

Semangat untuk anda!

 

 

 

 

Meditasi, yuk

Hai, all.

Ketemu lagi dengan si authoress daripada blog ini. Hehe.

 

Hari ini saya akan membahas tentang meditasi.

 

Apa anda seorang yang suka bermeditasi? Atau mungkin, tidak? Pertama-tama, kita intip yuk manfaat meditasi.

 

Meditasi, dalam pengertian saya adalah memusatkan pikiran pada satu objek. Dengan ketekunan, dan kegigihan, lama-kelamaan kita mampu menjadi lebih tenang, perasaan bahagia dan damai muncul dari dalam, konsentrasi meningkat. Meditasi cocok dilakukan bagi siapa saja karena bukanlah milik agama tertentu.

 

Anda orang yang sulit mengendalikan pikiran?; mudah emosi; seringkali bersedih, butuh ketenangan; rasa damai; penyelesaian masalah; menginginkan pengendalian diri; menumbuhkan kebijaksanaan?; ingin lebih dekat dengan Tuhan?

Solusi yang bisa diambil salah satunya adalah melalui meditasi.

 

Teknik-teknik meditasi di luar sana begitu banyak. Anda bisa coba googling untuk mencari yang sesuai dengan anda.

 

Kalau yang biasanya saya lakukan:

 

-Meditasi pada napas.

Jadi, memerhatikan, merasakan napas yang keluar masuk daripada hidung. Mau sambil bekerja, nunggu di halte atau dalam posisi duduk bersila dengan mata terpejam. Boleh. Dipadukan dengan angka, misal tarikan napas pertama, note di pikiran satu, keluar napas pertama kali, note sebagai dua, begitu sampai sepuluh. Lalu mulai dari awal lagi. Kalau sudah terbiasa, note berupa angka di pikiran bisa dicabut.

 

-Meditasi berjalan.

Jadi sambil berjalan kita memerhatikan gerakan dalam langkah kita.

 

-Meditasi gerak

misal sedang mencuci piring, perhatikan saja kita saat berada dalam gerakan. Kadang gerakan saya saya sengajakan agar lebih lambat agar lebih mudah berkonsentrasi, atau sedang memangkas kebun, silakan bermeditasi.

 

-Meditasi pada chakra ajna

yaitu bermeditasi pada titik di antara alis.

Misal dengan mata terpejam dan bersila. Bayangkan di titik tersebut terdapat cahaya yang begitu indah. Konsentrasikan di sana. Kalau masih sulit, saya biasanya mengawali dengan konsentrasi terhadap napas.

 

Masih banyak bentuk meditasi lainnya. Ada meditasi pada objek, warna, chakra lainnya, dst.

 

Silakan mulai latihan meditasi anda bila tertarik.

 

Selamat berlatih.

Advertisements